Menembus Asap, Memadamkan Api: Bupati Ketapang Bersama Petugas dan Relawan Berjuang Padamkan Karhutla

oleh -92 Dilihat

Ketapang Rabu 26 Agustus 2026, di tengah kepungan asap dan kobaran api di Desa Sungai Awan Kanan, Kecamatan Muara Pawan, tepat di perbatasan dengan Desa Tanjungpura, Saya Bupati Ketapang bersama jajaran terkait turun langsung melakukan upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam penanganan di lapangan, Saya bersama Kalak BPBD Kabupaten Ketapang, Kepala Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan bersama para Nakes, Camat Muara Pawan, Kepala Desa Sungai Awan Kanan, jajaran Kapolsek Muara Pawan, personel Manggala Agni, serta Yonif TP 832 Pawan Asasta, Kodim 1203, Koramil dan Ketua Karang Taruna bergerak bersama menuju titik-titik karhutla.

Mereka tidak datang sekadar untuk melihat dari kejauhan.

Di tengah panas, asap, dan medan yang berat, seluruh unsur bahu-membahu melakukan upaya pemadaman dan pengendalian api. Saya Bupati Ketapang pun turun langsung ikut memadamkan kobaran api bersama para petugas dan relawan, menyatukan langkah dengan mereka yang sejak awal berada di garis depan perjuangan.

Di tempat itu, panas tidak mengenal jabatan. Asap tidak membedakan pangkat. Semua berdiri dalam satu barisan dengan tujuan yang sama: memadamkan api, mencegahnya meluas, serta melindungi masyarakat dan lingkungan Ketapang.

Di Tengah Asap, Tak Ada yang Boleh Berjalan Sendiri

Medan karhutla bukan tempat yang mudah. Panas menyengat, asap menyesakkan, tanah yang kering dan kondisi lapangan yang sulit menguras tenaga. Namun para petugas dan relawan tetap bertahan.

Mereka terus bergerak ketika tubuh mulai lelah.
Mereka terus menyiram ketika api kembali menyala.

Mereka terus mencari titik-titik bara yang bersembunyi di balik asap, karena mereka tahu satu bara kecil yang dibiarkan dapat kembali menjadi api besar.

Di sanalah kita melihat bahwa perjuangan melawan karhutla bukan hanya tentang air yang disemprotkan ke api. Ini juga tentang keteguhan hati, keberanian, kesabaran, dan kesediaan untuk saling menjaga.

Personel Manggala Agni, BPBD, Yonif TP 832 Pawan Asasta, Kodim 1203, Koramil, Polsek Muara Pawan, tenaga kesehatan, pemerintah kecamatan dan desa, serta para relawan terus mengambil peran masing-masing.

Ada yang membawa selang, mengoperasikan pompa, mengatur jalur pemadaman, memastikan keselamatan, memberikan dukungan kesehatan, hingga menjaga agar api tidak semakin meluas.
Semuanya bergerak dalam satu irama.
Karena ketika api sudah membesar, tidak ada ruang untuk berjalan sendiri.

Untuk Mereka yang Berjuang di Garis Depan

Di tengah perjuangan tersebut, turut diserahkan dukungan bagi para petugas dan relawan berupa susu murni, air minum elektrolit, vitamin C, dan air mineral.

Mungkin bantuan itu sederhana jika dibandingkan dengan besarnya perjuangan mereka.

Namun di tengah panas dan lelah, sebuah perhatian kecil dapat menjadi penguat.
Segelas air menjadi pelepas dahaga.
Susu menjadi tambahan tenaga.
Vitamin menjadi bentuk kepedulian.
Dan setiap bantuan menjadi pesan bahwa mereka yang berada di garis depan tidak sedang berjuang sendirian.

Ada pemerintah yang memperhatikan.
Ada masyarakat yang peduli.
Ada doa yang menyertai.
Dan ada banyak tangan yang siap membantu.

Karhutla Bukan Hanya Persoalan Api

Karhutla bukan semata-mata tentang hutan dan lahan yang terbakar. Di baliknya ada udara yang menjadi sesak, aktivitas masyarakat yang terganggu, lingkungan yang rusak, serta kekhawatiran orang tua terhadap kesehatan anak-anak mereka.

Karena itu, memadamkan api hanyalah satu bagian dari perjuangan.
Bagian yang tidak kalah penting adalah mencegah api itu muncul kembali.

Kepada seluruh masyarakat, mari kita jaga Ketapang bersama. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Jangan menganggap kecil api yang kita nyalakan, karena kita tidak pernah tahu seberapa jauh dampaknya ketika api kehilangan kendali.

Satu api mungkin bermula dari satu titik, tetapi asapnya dapat dirasakan oleh banyak orang.

Pemimpin Hadir, Rakyat Tidak Sendiri

Kehadiran Saya bersama jajaran di lokasi karhutla hari ini bukan sekadar kunjungan lapangan. Ada pesan yang ingin disampaikan: ketika masyarakat menghadapi kesulitan, pemerintah harus hadir.

Hadir bukan hanya untuk melihat.
Hadir bukan hanya untuk memberikan instruksi.
Tetapi hadir untuk ikut merasakan panasnya medan, melihat langsung kondisi para petugas, mendengar persoalan di lapangan, dan bila diperlukan, turun bersama-sama melakukan pekerjaan yang sama.

Sebab kepemimpinan pada akhirnya bukan tentang seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi tentang seberapa dekat ia mau berada ketika rakyatnya membutuhkan.

Di tengah asap yang menutup pandangan, mungkin banyak hal tidak terlihat dengan jelas.
Namun satu hal terlihat sangat terang:
semangat gotong royong masih menyala.

Dari Sungai Awan Kanan hingga perbatasan Tanjungpura, dari petugas hingga relawan, dari pemerintah hingga masyarakat—semuanya membawa harapan yang sama:

api harus padam, asap harus berakhir, dan Ketapang harus tetap kita jaga bersama.

Hari ini kita mungkin sedang berhadapan dengan api.
Tetapi sesungguhnya yang sedang kita pertahankan jauh lebih besar dari sekadar hamparan lahan.
Kita sedang menjaga rumah bersama.
Menjaga udara yang kita hirup.
Menjaga kehidupan masyarakat.
Menjaga tanah tempat anak-anak kita kelak tumbuh.

Dan menjaga Ketapang untuk tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi generasi yang akan datang.

Mari padamkan apinya dengan tangan kita.
Mari cegah munculnya dengan kesadaran kita.
Dan mari jaga Ketapang dengan kepedulian kita.

Karena pada akhirnya, Ketapang bukan hanya tempat kita tinggal. Ketapang adalah rumah yang menjadi tanggung jawab kita bersama.

No More Posts Available.

No more pages to load.